Berbagai peristiwa di Indonesia belakangan ini, mewarnai dinamika sosial yang banyak menyita energi seluruh komponen bangsa. Dari mulai bongkar pasang kabinet SBY-JK sampai konflik horizontal (anarkhisme) yang tak kunjung reda. Belum lagi, penyelesaian penegakkan hukum yang masih berkutat pada kasus-kasus “recehan” – belum menyentuh yang substanstif – sampai pada polemiknya antar lembaga tertinggi Negara (MA Vs KPK). Di tambah lagi, kebijaan ekonomi pemerintahan SBY-JK yang belum berpihak sepenuhnya kepada kesejahteraan rakyat kecil, sebab lagi-lagi alasannya adalah jargon “pertumbuhan” untuk menstabilkan ekonomi makro. Akibatnya, hanya segelintir orang saja (pengusaha kelas menengah sampai kakap) yang dapat survival dan menikmati “kue pembangunan” republik ini. Baca Lanjutannya…
Membangun Kesadaran Kolektifitas Anak Bangsa
Ditulis dalam Opini | Tag:bangsa, membangun, Indonesia, kesadaran, kolektif, narkoba, lingkungan, keteladanan, eksekutif, yudikatif, legislatif, ekosistem
Merajut Benang Kusut Indonesia
Perlunya Pengendalian Sosial Untuk Aliran-aliran Agama di Indonesia
BPK VS MA
Prilaku elite kukuasaan di negeri kita aneh bin ajaib. Bagaimana tidak? dalam suasana bangsa yang sedang dirundung berbagai masalah yang tak kunjung redah, para elite sibuk dengan konflik (cakar-cakaran)antar mereka. Seperti kasus konfliknya BPK dan MA, yang pada akhirnya Presiden harus ikut membantu menyelesaikan persoalan mereka. Sinyelemen yang seperti itu menjadi proses pembelajaran politik yang tidak sehat bagi masyarakat. Masyarakat semakin dibikin bingung dan mungkin jengkel melihat prilaku elite yang semakin childness (kekanak-kanakan.) Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam Opini | Tag:BPK, elite kekuasaan, human error, MA
Pemerintah Vs Pedagang Kaki Lima (PKL)
Hampir setiap hari berita di televisi-telivisi atau media cetak di kita, dipenuhi tentang penertiban wilayah-wilayah yang dihuni Pedagang Kaki Lima (PKL) oleh aparat trantib dan aparat keamanan daerah. Ironisnya, setiap pemuatan berita tentang penertiban PKL selalu dibarengi dengan bentrok fisik dan selalu ada korban. Hal itu terjadi terus-menerus bagaikan aktivitas yang sudah menjadi kemestian adanya. Sehingga gambaran yang nampak di permukaan adalah, sebuah potret masyarakat yang selalu didera konflik terus-menerus tanpa ada kepastian penyelesaian. Atau memang jenis masyarakat kita — dari mulai penguasa sampai rakyatnya — adalah masyarakat yang “sakit”. Sakit di sini dimaknai, meminjam istilah ahli psikologi yang dinamakan “patologi sosial”, yakni semacam penyakit jiwa yang kaitannya dengan pola hubungan sosial. Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam Opini | Tag:aparat trantib, pemerintah, PKL, serve of society, sosio-kultural
Sekelumit Tentang Anarkhisme di Indonesia Hari Ini
Kalau mengamati proses penegakkan hukum di Indonesia belakangan ini, sepertinya jauh dari harapan untuk menuju sebuah negara besar yang bermartabat dan berperadaban. Penegakkan hukum terkesan masih pilih-pilih atau tebang pilih. Ketika ada sekelompok komunitas tertentu yang mengatasnamakan kekuatan “akar rumput”, atau lembaga “agama” yang bertindak atas nama “hakim” adalah produk ketidakberdayaan aparat hukum kita. Ketidakberdayaannya boleh jadi karena memang tidak mampu atau ada faktor kesengajaan , untuk tidak menyebut rekayasa. Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam Refleksi | Tag:anarkhisme, Indonesia, penegakkan hukum
Perubahan Sosial dan Pasang-Surutnya Semangat Keagamaan di Indonesia
Sosiologi Indonesia: haruskah lebih sosiologis?
Carut marutnya bangsa Indonesia dari berbagai problematikanya diperlukan gagasan-gagasan orisil yang justru problem solvingnya dari perspektif sosiologis. Sebab, di mata indonesianis, bangsa ini tidak mudah di selesaikan dengan sekedar jargon politik semata. Tetapi, diperlukan kerja sosial yang berbasis sosial-budaya yang sangat heterogen. Dapat dibayangkan, semisal penyelesaian separatisme diberbagai daerah hanya diproduk dari “meja Jakarta” yang notabene central elite kekuasaan yang –meminjam istilah trennya — ” tebar pesona an-sich“. Baca Lanjutannya…
Ditulis dalam Opini | Tag:batu sandung, pengendalian sosial, Sosiologi Indonesia, tebang pilih